Bangkitkan Wisata sambil Tetap Perhatikan Protokol Kesehatan

Bangkitkan Wisata sambil Tetap Perhatikan Protokol Kesehatan

Terbaiknews - ANTISIPATIF: Pemberian health kit di gate keberangkatan Bandara Soekarno-Hatta sebelum penumpang masuk ke dalam pesawat. (Saifan Zaking/JawaPos.com)

JawaPos.com – Pariwisata saat ini mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19. Hal ini pun membuat perekonomian masyarakat terpukul. Untuk itu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pun bersama Garuda Indonesia berkolaborasi untuk meningkatkan minat masyarakat berwisata.

Beberapa hal yang bisa diketahui jika ingin berwisata, masyarakat tidak perlu khawatir akan penyebaran virus di bandara. Berdasarkan pantauan JawaPos.com di Bandara Soekarno Hatta, penerapan protokol kesehatan begitu ketat.

Untuk para calon penumpang, sebelum berangkat wajib memiliki surat keterangan negatif rapid test atau PCR test. Jika tidak maka tidak diizinkan untuk terbang ke distinasi tujuan.

Calon penumpang perlu untuk mengunjungi counter validasi terkait pemeriksaan surat negatif tes. Setelah itu, maka akan diperbolehkan melanjutkan ke pemeriksaan selanjutnya yang nantinya akan diperiksa juga kelengkapan seperti boarding pass, KTP serta hasil rapid atau PCR.

Dalam pesawat juga, maskapai penerbangan telah menerapkan protokol 3M, wajib memakai masker, wajib mencuci tangan atau hand sanitizer serta menjaga jarak. Pesawat pun telah memiliki HEPA Cabin Air Filter untuk menyaring udara dari dalam ke luar pesawat, termasuk virus dan bakteri.

Para penumpang, salah satunya Nanda (27) yang destinasi wisatanya Bali pun mematuhi penerapan protokol tersebut, ia mengatakan bahwa hal itu diterapkan dengan baik. ’’Penerapannya sudah bagus, penumpang juga di bandara sama di dalam pesawat patuh protokol. Jadi cukup aman sih,’’ katanya kepada JawaPos.com di lokasi.

Kenapa ia memilih Bali, hal itu kata dia adalah bentuk dukungannya sebagai pemulihan ekonomi nasional yang dicanangkan pemerintah, terutama untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Pasalnya, sekitar 54 sampai 58 persen pergerakan ekonomi di Bali berasal dari sektor pariwisata. ’’Kalau tidak ada yang berwisata, uang kan tidak bergerak,’’ tandasnya.

Kemudian, di Bali pun penerapan protokol juga sama ketatnya. Tidak boleh ada penumpang yang berdekatan dan electronic health alert card (e-Hac) juga diperiksa sesampai tujuan.

Ida Bagus Prawira (54) yang berprofesi sebagai pekerja travel di Bali mengaku bahwa kondisi ekonomi di Bali sedang tidak baik. Hal ini tentunya karena pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat khawatir. ’’Sepi banget Bali, udah kayak mati suri,’’ terang dia.

Adanya kolaborasi antara Kemenparekraf dan Garuda Indonesia diharapkan dapat meningkatkan laju perekonomian Bali. Jika kondisi sudah membaik, harapannya masyarakat dapat tetap menjadi pahlawan bagi negeri sendiri dengan berwisata .

Akan tetapi sebelum itu untuk menghadapi pandemi Covid-19, masyarakat perlu mematuhi protokol kesehatan 3M, yakni wajib memakai masker, wajib mencuci tangan atau hand sanitizer serta wajib menjaga jarak. (*)

Saksikan video menarik berikut ini: