Badan Udah Remuk, Tanggung Banget Kalau Nggak Sekalian

Badan Udah Remuk, Tanggung Banget Kalau Nggak Sekalian

Terbaiknews - Gregoria Mariska Tunjung menjadi pemain terakhir yang menjadi juara pada rangkaian Mola TV PBSI Home Tournament 2020. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI)

– Ketika Gregoria Mariska Tunjung dipastikan bertemu Putri Kusuma Wardani pada final Mola TV PBSI Home Tournament sektor tunggal putri kemarin (25/7), banyak badminton lovers yang memprediksi dia bakal kalah.

Dasar prediksi itu adalah hasil fase grup Kamis lalu (23/7). Saat itu, Gregoria kalah dengan skor 23-25, 22-20, 11-21 di tangan Putri. Bukan hanya karena Putri bermain lebih baik. Tapi juga karena permainan Gregoria memang berantakan.

Nah, prediksi itu dijungkirbalikkan dalam partai puncak. Pemain peringkat ke-21 dunia itu bermain lebih taktis. Dia tidak memberi Putri kesempatan untuk mengembangkan permainan. Penempatan bolanya cerdik, pergerakannya juga efektif. Dia tidak kelelahan sendiri. Dan di atas semuanya, Gregoria sangat tenang dan percaya diri.

Alhasil, Gregoria menang 21-17, 21-10 dalam waktu relatif singkat.

Tunggal putri terbaik Indonesia itu bilang, dirinya memang banyak belajar dari pertemuan pertama lalu. ’’Saya nggak mau kalah karena di pertemuan terakhir kalah dan kelihatan sekali saya habis,’’ tutur Jorji, sapaan akrabnya. ’’Hari ini (kemarin) saya sudah siap capek karena tadi pagi kan tanding juga,’’ imbuh dia.

Kemarin pagi di semifinal, Jorji menang atas Saifi Rizka Nur Hidayah dengan skor 21-16, 21-13. Sedangkan Putri unggul atas Asti Dwi Widyaningrum 21-15, 21-18. Dia menyatakan, fisiknya sudah cukup lelah dengan pertandingan itu. Namun, justru kondisi tersebut dia manfaatkan untuk tampil lebih baik di final.

’’Badan udah remuk, tanggung banget kalau nggak sekalian. Saya nggak mau setengah-setengah. Malah nyesel belakangan kalau kalah,’’ tuturnya. ’’Saya kepingin main bagus aja tadi. Hasil nggak dipikirin dulu. Jadinya malah bisa lebih tenang. Di lapangan bisa berpikir lebih panjang,’’ jelas pemain binaan Mutiara Cardinal Bandung tersebut.

Jorji menambahkan, hasil itu tidak lantas membuatnya puas. Ada beberapa catatan yang harus dia perbaiki. Terutama mengatasi rasa tegang dan menjaga mental.

’’Yang pasti, fisik harus ditingkatkan lagi. Karena ini kan sehari main dua kali. Kalau lawan pemain yang (level) atas, itu setara dengan main dua kali. Dan untuk sampai ke situ nggak gampang,’’ tambah pemain 20 tahun tersebut.

Sementara itu, Putri mengakui bahwa Jorji memang lebih siap tampil pada final kemarin. Pemain yang akrab disapa Putri KW itu mengalami apa yang sering menimpa pemain muda pada partai penting: nervous.

Alhasil, perempat finalis Kejuaraan Dunia 2019 itu tak mampu menampilkan performa seperti di fase grup.

Kepercayaan dirinya jauh berkurang. Dia sering mati langkah. Juga membuat kesalahan-kesalahan sendiri. Rupanya, dia terjebak dalam permainan yang dikembangkan sang lawan.

’’Saya ikut permainan Kak Grego. Saya seperti cuma menerima-menerima (umpan dia) saja,’’ ungkap Putri KW. ’’Tidak seperti di pertemuan sebelumnya, kali ini saya lebih hati-hati dan nggak yakin dengan permainan saya sendiri,’’ tambah dia.

Meski tidak juara, Putri mengatakan pertandingan itu cukup berharga baginya. Apalagi dia sempat mengalahkan pemain-pemain yang lebih senior. Ya, setelah Gregoria di fase grup, Putri mengalahkan tunggal putri kedua Indonesia, Fitriani, dengan skor 21-17, 21-14 pada Kamis sore. Hal itu tentunya semakin menumbuhkan kepercayaan dirinya.

’’Sebetulnya, saya puas dengan penampilan saya secara keseluruhan selama turnamen ini. Saya bisa melawan pemain yang lebih senior. Bisa ngerasain, oh begini ya rasanya main melawan senior,’’ tutur Putri. ’’Hanya yang tadi saja (final, Red) yang nggak puas,’’ tambahnya kecut.