Analisis: Mengapa Suzuki Dahsyat dan Bisakah Mereka Juara MotoGP 2020?

Analisis: Mengapa Suzuki Dahsyat dan Bisakah Mereka Juara MotoGP 2020?

Terbaiknews - Pembalap Suzuki Ecstar Joan Mir saat berlaga pada GP Emilia Romagna di Sirkuit Misano (20/9). (MotoGP)

JawaPos.com-Musim MotoGP 2020 adalah tahunnya New Kids on the Block.

Bagi yang lahirnya “baru-baru saja”, barangkali tidak familiar dengan nama boy band era 80-90-an itu. Coba searching di mesin pencarian daring. Di sana akan ditemukan kumpulan anak-anak muda pandai menyanyi yang mengguncang dunia permusikan pada waktu itu.

Di MotoGP tahun ini – seperti halnya era new normal di tengah pandemi Covid-19- muncul pemandangan tidak jamak setiap kali melihat rider-rider yang tampil di podium. Mereka adalah anak-anak baru dengan kecepatan mengerikan. Mereka tiba-tiba mampu bertarung di barisan terdepan melawan bintang-bintang lama dengan pengalaman balap jauh lebih lama.

Ada Francesco Bagnaia yang tetap tampil sangar meski kakinya patah. Ada pula Brad Binder yang tiba-tiba menghenyakkan siapapun di grid MotoGP karena sukses merengkuh kemenangan di musim debutnya. Atau Fabio Quartararo, yang sudah naik level menjadi penantang juara dunia, sejak musim ini dimulai.

Analisis: Mengapa Suzuki Dahsyat dan Bisakah Mereka Juara MotoGP 2020?
Fabio Quartararo menjadi pemuncak klasemen sementara MotoGP 2020. (MotoGP)

Dari deretan New Kids on the Block itu, nama Joan Mir adalah yang paling tidak diduga-duga. Seperti manuver-manuvernya yang mengagetkan, jagoan Suzuki itu seakan menyalip di tikungan terakhir, lalu membuat semua rider top tersadar bahwa ada monster di belakang mereka.

Kalau ada yang bilang kondisi seperti ini terjadi semata-mata karena absennya Marc Marquez akibat cedera, eiittss…tunggu dulu. Bukan bermaksud mengecilkan dominasi Marquez yang telah membentuk pola persaingan di MotoGP sejak 2013, tetapi musim ini faktornya bukan hanya dia.

Setelah tujuh balapan berlalu, tengara bahwa ban belakang baru Michelin yang diperkenalkan tahun ini lebih cocok dengan motor bermesin empat silinder segaris, ternyata terbukti.

Sejak Michelin menggantikan Bridgestone sebagai pemasok ban MotoGP pada 2016, total sudah lahir 73 balapan. Dari lomba sebanyak itu, hanya tiga kesempatan podium yang dikuasai Yamaha YZR-M1 dan Suzuki GSX-RR. Sisanya, milik mesin V4 milik Honda dan Ducati tampil mendominasi.

Tahun lalu, 69 persen podium masih dikuasai rider-rider bermesin V4. Tapi tahun ini, sampai artikel ini ditulis, 63 persen podium sudah dikuasai motor bermesin empat silinder segaris (Yamaha dan Suzuki). Dari angka itu saja sudah tercermin, betapa signifikan perubahan yang terjadi akibat ban belakang baru Michelin itu.

Dan Suzuki adalah tim pabrikan yang ikut mendulang keuntungan dari perubahan permukaan ban belakang (slick) baru ini. Ban baru tersebut memiliki cengkeraman lebih kuat dibandingkan spek tahun lalu. Selain itu, permukaan ban yang menapak ke aspal juga lebih lebar. Alhasil, motor-motor MotoGP dipaksa agar diperlakukan lebih smooth ketika melibas tikungan.

Padahal, motor bermesin V4 punya karakter agresif. Begitu gambaran besarnya. Tentu saja, penjelasan secara detilnya akan sangat kompleks. Hanya para engineer MotoGP yang mampu menjelaskan hal itu dengan presisi.

Dalam kasus Suzuki, ditemukan elemen ganjil yang timbul akibat ban baru Michelin ini. Jika rider-rider Yamaha selalu mengeluhkan masalah cengkeraman ban belakang yang lekas tandas, Suzuki justru sebaliknya. Mereka malah mengalami surplus grip.

GSX-RR sudah lama dikenal sebagai motor dengan sasis terbaik di MotoGP saat ini. Paling stabil, paling mudah ditunggangi. Paling tidak menguras fisik pembalap.

Analisis: Mengapa Suzuki Dahsyat dan Bisakah Mereka Juara MotoGP 2020?
Duo pembalap Suzuki Ecstar Joan Mir (kiri) dan Alex Rins berselebrasi di podium. Mereka finis di posisi kedua dan ketiga GP Catalunya (27/9). (Lluis Gene/AFP)

Stabilitas sasis GSX-RR ini mengingatkan kolumnis Motorsport Magazine Mat Oxley dan sejumlah rider MotoGP kepada motor 250cc dua tak dua silinder (sebelum jadi kelas Moto2). Motor ini punya tenaga 100 hp dengan bobot hanya 100 kilogram.

’’Sasisnya luar biasa. Serasa menunggangi motor 250 cc. Aku bisa melaju sekencang yang aku mau ketika akan memasuki tikungan. Dan motornya akan berbelok dengan mudah. Aku bisa melakukan pengereman seterlambat mungkin dan membalap seagresif mungkin,’’ ungkap pembalap Aprilia Aleix Espargaro yang pernah membalap dengan GSX-RR pada 2015-2016.

Andrea Dovizioso menyebut, GSX-RR merupakan anti-tesis dari Ducati Desmosedici. ’’Motor (Suzuki) itu sangat stabil. Dari luar, terlihat begitu mudah dikendalikan dibandingkan dengan motor lainnya. Bisa sangat konsisten sepanjang balapan. Jadi di bagian akhir balapan lomba mereka bisa sangat kencang karena penggunaan bannya lebih sedikit (irit ban). So, mereka bisa menjaga kecepatannya sampai akhir,’’ ucapnya.

Tetapi ternyata, surplus cengkeraman ban tidak selamanya baik untuk performa motor MotoGP. Dan itulah jawaban dari pertanyaan; mengapa rider-rider Suzuki baru bisa kencang di paro kedua balapan, lalu lebih sangar lagi di bagian akhir lomba?

Terlalu banyak grip di ban belakang mengakibatkan ketidakseimbangan traksi dengan ban depan. Hal itu mengakibatkan kesulitan saat akan masuk dan keluar tikungan.

Ketika memasuki tikungan dan cengkeraman ban belakang masih terlalu kuat, maka keseimbangan motor berpindah terlalu jauh ke bagian belakang motor. Jadi ban depan tidak bisa mencengkeram secara maksimal. Alhasil, rider tidak bisa membelokkan motor dengan mudah.

Begitu juga saat keluar tikungan. Stabilitas motor yang bergeser terlalu ke belakang, membuat ban depan hampir tidak menyentuh aspal. Akibatnya, motor tidak mudah diarahkan karena roda depan mengalami sedikit wheelie.

Di tengah balapan, seringkali terlihat rider-rider menggunakan teknik sliding saat akan melakukan pengereman. Mereka melakukan late braking lalu menahan roda belakang agar tetap stabil dengan harapan tidak kehilangan banyak waktu di tikungan. Nah, teknik ini sulit dilakukan rider Suzuki di awal-awal balapan. Karena daya cengkeram ban mereka terlalu kuat untuk melakukan sliding.

Mereka baru bisa melakukannya ketika balapan sudah memasuki paro kedua. Saat roda belakang sudah terkikis cukup banyak. Tak heran bila Mir atau Alex Rins baru bisa bertarung habis-habisan di akhir-akhir balapan.

Itu termasuk manuver bersejarahnya saat melibas Valentino Rossi di tikungan terakhir GP San Marino. Dan hal ini sudah menjadi pola dan ciri khas tersendiri bagi Mir yang sudah naik podium tiga kali beruntun.

Analisis: Mengapa Suzuki Dahsyat dan Bisakah Mereka Juara MotoGP 2020?
Joan Mir melibas Valentino Rossi pada GP San Marino 2020. (MotoGP)

Surplus grip ban belakang ini sudah berefek buruk pada sesi kualifikasi. Dengan ban yang baru rider-rider Suzuki seringkali kesulitan mendapatkan kecepatan maksimal untuk urusan lap time.

’’Jadi kami sedang perlu menemukan solusi agar kami bisa lebih baik pada awal-awal lomba,’’ kata kepala mekanik Mir, Frankie Carchedi.

Meski belum pernah merengkuh kemenangan, dalam situasi persaingan balapan yang tidak menentu seperti sekarang, Mir punya peluang besar untuk keluar sebagai juara dunia.

Apalagi, untuk jadi juara di MotoGP 2020 tidak perlu jumlah kemenangan lebih banyak. Tapi terus tampil konsisten di setiap lomba. Dan seperti lagu New Kids on the Block: hanya perlu “Step by Step” bagi Mir untuk menjadi bintang terbesar MotoGP 2020.