25 Hari setelah Dua Kasus Pertama Itu

25 Hari setelah Dua Kasus Pertama Itu

Terbaiknews - – Berkaca pada lonjakan kasushari-hari berat masih menanti Indonesia dalam palagan melawan...

– Berkaca pada lonjakan kasus, hari-hari berat masih menanti Indonesia dalam palagan melawan Covid-19. Dalam 25 hari sejak dua pasien positif pertama diumumkan 2 Maret lalu, lonjakannya mencapai 1.000 lebih. Kemarin (27/3) tercatat total pasien positif Covid-19 Indonesia menembus 1.046 kasus.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan, ada tambahan 153 kasus baru pada periode 26 hingga 27 Maret 2020. Angka tersebut diiringi pertambahan jumlah pasien sembuh sejumlah 11 orang. Jadi, secara kumulatif menjadi 46 orang diiringi 9 kematian baru. Total nyawa melayang akibat penyakit yang dipicu virus SARS CoV-2 atau umum disebut sebagai virus korona itu pun mencapai 87 orang.

Kondisi itu, kata Yuri, sapaan Achmad Yurianto, menunjukkan bahwa masih ada proses penularan di tengah masyarakat meskipun perintah untuk tetap di dalam rumah dan menjaga jarak terus digaungkan. â&;&;Dalam hal ini masyarakat menjadi pihak yang paling rentan terhadap penularan Covid-19. Itu kalau tidak menerapkan anjuran pemerintah dalam pencegahan sesuai protokol kesehatan,â&;&; jelasnya.

Persebaran kasus Covid-19 di Indonesia meliputi Aceh menjadi 4 kasus, Bali 9 kasus, Banten 84, DI Jogjakarta 22, dan DKI Jakarta 598 kasus. Selanjutnya di Jambi 1 kasus, Jawa Barat 98, Jawa Tengah 43, Jawa Timur 66, Kalimantan Barat 3, Kalimantan Timur 11, Kalimantan Tengah 6, dan Kalimantan Selatan 1 kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau 5 kasus, NTB 2, Sumatera Selatan 1, Sumatera Barat 5, Sulawesi Utara 2, Sumatera Utara 8, dan Sulawesi Tenggara 3 kasus. Selain itu, di Sulawesi Selatan tercatat 29 kasus, Sulawesi Tengah 1, Lampung 4, Riau 1, Maluku Utara dan Maluku masing-masing 1, Papua Barat 2, serta di Papua 7 kasus positif.

Di sisi lain, KTT Luar Biasa G20 menghasilkan sejumlah kesepakatan untuk menanggulangi pandemi Covid-19. Salah satunya mengupayakan semaksimal mungkin pengadaan alat-alat kesehatan. Beberapa negara akan menjadi tumpuan, salah satunya Indonesia.

Indonesia sejak lama memang dikenal sebagai salah satu produsen APD (alat pelindung diri). â&;&;Indonesia punya kesempatan karena beberapa (produk) seperti APD Indonesia punya kapasitas untuk menyuplai, termasuk hand sanitizer,â&;&; terang Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis (26/3) malam lalu.

IMF dan World Bank, jelas Sri Mulyani, telah berkomitmen mendukung sumber daya bagi perusahaan-perusahaan yang memproduksi masker. Mereka didorong untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Dari dalam negeri, pemerintah juga akan memberikan dukungan penuh.

Saat ini semua negara G20 sedang merumuskan kebijakan bersama untuk menciptakan vaksin Covid-19. â&;&;Sudah ada indikasi untuk mengalokasikan USD 4 bilion yang dimobilisasi dari semua negara G20.â&;&;

Anggaran tersebut untuk mengakselerasi riset dan menemukan antivirus atau vaksin pandemi Covid-19. Sedang dibahas di level Menkeu anggota G20.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa pihaknya sudah meminta asosiasi tekstil untuk ikut membuat APD sebanyak mungkin demi memenuhi kebutuhan. â&;&;Saat ini kita masih butuh cukup banyak dalam menghadapi persebaran virus korona di Indonesia,â&;&; tuturnya kemarin (27/3).

Diversifikasi produk tekstil itu sekaligus bisa menjadi solusi di tengah menurunnya pasar tekstil dalam negeri akibat pagebluk Covid-19. Sampai saat ini belum bisa diprediksi kapan wabah akan berakhir.

Bantuan dari Tiongkok

Sementara itu, 40 ton bantuan alat kesehatan untuk penanganan Covid-19 yang berasal dari berbagai investor asal Tiongkok telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, kemarin. Pesawat pengangkut berupa Boeing 777 Garuda Indonesia mendarat dini hari pukul 01.04 WIB.

â&;&;Bantuan ini berasal dari investor Tiongkok yang berfokus pada hilirisasi minerba. Alhamdulillah, bantuan tahap I sudah tiba dengan selamat. Selanjutnya, minggu ini akan datang lagi yang tahap II,â&;&; ujar Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Agung Kuswandono.

Pasokan medis itu terdiri atas test kit Covid-19, swab kit, masker N95, masker bedah, hingga APD seperti baju, kacamata, dan sarung tangan. Seluruh bantuan tersebut akan didistribusikan melalui BNPB, rumah-rumah sakit, dan jaringan beberapa fakultas kedokteran (FK).

â&;&;Kami berjanji untuk langsung mendistribusikan,â&;&; ucap Sekretaris Utama BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), perwakilan dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Harmensyah.

Relawan

Di sisi lain, program relawan Covid-19 yang diinisiasi Kemendikbud pada tahap pertama telah mencapai 15 ribu mahasiswa. Relawan mahasiswa itu nanti diterjunkan untuk melakukan program-program preventif dan promotif melalui komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat terkait Covid-19.

Relawan mahasiswa juga dapat membantu pemerintah daerah melakukan pelacakan (tracing and tracking). Juga membantu pelayanan call center di pusat maupun daerah serta pusat-pusat layanan Covid-19.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Nizam mengungkapkan, para relawan mahasiswa tersebut tengah dibekali pelatihan secara daring. Sebagian melalui video conference. Lainnya menggunakan video streaming.