Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Terbaiknews - BERITA tentang kegaduhan izin reklamasiPantaiAncolpada koran harian Kompas edisi Sabtu (4/7/...

BERITA tentang kegaduhan izin reklamasiPantaiAncol, pada koran harian Kompas edisi Sabtu (4/7/ 2020), menggelitik memori-memori indah pada tiga negara.

Sama sekali tidak menggelitik keingintahuan siapa yang benar soal hukum. Tidak juga tentang siapa yang unggul secara politik. Tidak ada sama sekali.

Hanya memunculkan kembali memori-memori bagus di negara yang menikmati kemewahan dan kenyamanan hidup dari hasil reklamasi. Pengalaman ke negara-negara pro-reklamasi membuat pengalaman menikmati kemewahan dan kenyamanan tersebut lebih hidup.

Singapura, Belanda, dan Louisiana (Amerika Serikat), adalah negara/negara bagian yang menikmati manfaat sosial, kecantikan lansekap, dan pertumbuhan ekonomi dari reklamasi. Baik itu reklamasi dengan teknik mengeringkan laut (polder) atau pun menimbun laut dengan tanah (land-fill).

Pemprov DKI Revisi Perda Tata Ruang untuk Akomodasi Reklamasi Ancol

Entah kebetulan atau tidak, ketiga negara tersebut masing-masing dua kali saya kunjungi. Entah beruntung atau tidak, visitasi ketiganya dibiayai oleh organisasi-organisasi dari setiap negara. Itu memori indah utama dan abadi bagi saya.

Kita ke negara pertama, Belanda. Dua kali mengikuti pelatihan tahun 2011 dan 2017, masing-masing di Wageningen University dan Twente University.

Semoga bisa sampai yang kelima. Semuanya memberikan kesan manis dan ingin balik lagi, serta kecerdasan rekayasa sipil dutchman.

Kesan manis terhadap infrastruktur, sarana, prasarana, hutan buatan, dan tata ruang di atas lahan reklamasi terasa saat keluyuran. Baik keluyuran resmi (study tour) maupun keluyuran pribadi.

Kalo soal cerdas, biar fakta yang bicara. Tiap tahun ratusan mahasiswa dari Indonesia belajar ke sana.

Lebih dari 2.500 mahasiswa Indonesia belajar di sana, berdasarkan data Nuffic-Neso (Netherlands Education Support Office) Indonesia tahun 2019. Tokoh menteri yang alumni Universitas di Belanda adalah Menteri Luar Negeri, Ibu Retno Marsudi. Juga Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Ibu Siti Nurbaya Bakar.

Memori indah berikutnya, adalah waktu pertama kali mendarat di bandara Schiphol. Kaget bukan main, ketika diumumkaan di pesawat, bahwa bandara ini berada 5 meter di bawah permukaan laut Utara (North sea, Belanda: Noord zee).

Membayangkan akan melihat laut saat turun tangga pesawat, eh ... malah sepanjang mata melihat hanya hamparan lahan komersial dan pertanian. Reklamasinya masif sekali.

Masuk dalam bandara, tata ruangnya rapi, bersih, deretan toko indah dilihat dan lega pedestriannya serta petugasnya ramah.

Reklamasi Ancol Diklaim Bisa Atasi Banjir Jakarta, tapi Bisa Ancam Pemulihan Teluk Jakarta

Bandara ini adalah hasil dari teknik reklamasi bernama polder. Maksudnya, kita membuat daratan dari kawasan laut, dengan cara mengeringkannya. Bukan menimbunnya (land-fill). Mantap kan? Laut dikeringkan lalu jadi bandara dan kawasan komersial.

Memori cakep selanjutnya adalah saat keluyuran di provinsi Flevoland. Ini merupakan monumen kedigjayaan proyek reklamasi di Belanda.

Seratus persen provinsi dari hasil reklamasi dengan teknik penimbunan (land-fill). Iya, Anda tidak salah baca, 100 persen danau (dulunya laut) ditimbun lalu menjadi provinsi kedua belas.

Dengan luas wilayah reklamasi sekitar 2.400 km persegi, Flevoland merupakan provinsi terluas nomer 6 dari 12 provinsi. Sangat mengejutkan juga, ternyata provinsi baru hasil reklamasi lebih luas dari provinsi lain yang lebih tua.

Populasinya nomer 8 terbanyak. Sedangkan ekonominya (produk regional bruto per kapita) nomer 9. Inilah serangkaian fakta bahwa lahan reklamasi, jika dikelola dengan baik, pasti memajukan ekonomi.

Cornelis Coffeman, kolega dari desa Urk di provinsi Flevoland, adalah orang yang mengantar berkeliling. Dari Lelystad, Ibukota provinsi, berkeliling pesisir desa (yang dulunya pesisir laut, dan sekarang jadi pesisir danau).

Mari belajar sejarah sejenak. Agar sama pengetahuan kita, tentang waduk Ijsselmeer (baca: ai-sel-mer). Dulu, sebelum jadi waduk (danau buatan), wilayah ini adalah lautan teluk yang terbuka ke laut Utara.

Untuk mencegah terjadinya banjir pada daerah sekitarnya, maka pemerintah melakukan mitigasi, dengan membangun dam/bendungan bernama Afsluidijk (baca: af-sloit-daik) tahun 1927-1932.

Dam inilah yang mengubah air asin di teluk (dahulu) dan kemudian menjadi air tawar (saat ini), dan diberi nama Ijsselmeer. Rata-rata kedalamannya 5 meter.

Kembali lagi, kami lalu lanjut ke pabrik pengolahan ikan, diteruskan ke Kantor Pelelangan Ikan, kemudian ke tempat belanja barang bermerek (Batavia Stad Factory Outlet), lanjut ke Museum Perikanan, monumen korban musibah kapal ikan yang tenggelam. Terakhir ke sekolah perikanan tertua di Belanda.

Waktu ke sekolah perikanan, dia sangat dihormati. Selidik informasi ke guru di sana, ternyata dia mantan Kepala Sekolah di situ. Karena reklamasi, dia kemudian menjadi komisaris di perusahaan perikanan yang berinvestasi di situ.